Aku masih di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, satu-satunya tempat di mana masa depan terlihat sesederhana selembar sertifikat kompetensi, ketika sebuah kebenaran telanjang dan itu sungguh-sungguh telanjang menyergap indra.
Aku ingat sekali, Stadion Cibinong itu bukan lagi kotak hijau yang seharusnya menjadi saksi perayaan. Itu adalah arena. Dan kami, bocah-bocah yang gila pada warna kebanggaan, adalah bidak yang baru saja menyadari bahwa papan catur telah dibalik oleh pemain lain yang tidak kami kenali.
Saat itu Abang-abanganku mereka yang selalu tahu cerita-cerita off the record membisikkan kabar yang terdengar seperti bualan politik murahan: Pak E. Namanya melayang di udara yang sesak, bergetar di antara kepulan asap flare dan amarah yang belum sempat meledak. Ia Jendral saat itu, ia juga Ketua Umum PSSI, dan ini yang terpenting ia juga sedang mengejar kursi gubernur Sumatera Utara pada saat itu.
Maka, hadirlah pemandangan yang tidak bisa kucerna, bahkan oleh otak SMK-ku yang hanya didesain untuk merakit komponen. Mereka datang dengan berkompi-kompi berseragam hijau-cokelat itu, dengan sepatu lars yang memijak rumput seolah itu adalah kepala musuh yang harus dihancurkan. Mereka bukan bertugas untuk pengaman. Mereka hanya menjalankan tugas untuk pendukung PSMS saat itu, dengan tujuan yang tidak perlu dijelaskan kamu sudah tau betul apa tujuannya.
Banu Rusman. Bocah yang sedang gila-gilanya pada tim yang sama dengan kami. Ia terpaku, dan aku juga. Aku melihat dengan bola mata yang beku, bagaimana kekerasan itu terjadi. Bukanlah adegan yang dipoles seperti film di Hollywood, bukan pula mock-up simulasi latihan. Ini nyata, dengan bau keringat, darah, dan sepatu besi yang menjijikkan itu. Aku tidak bisa berpikir. Aku hanya bisa diam dan mencerna pergerakan kamera di kepalaku, menyorot satu per satu gestur brutal yang tak termaafkan.
Seorang sosok dengan kekuasaan yang arogan dengan kekuatan yang ditenun dari seragam dan ambisi politik bisa dengan bangganya petantang-petenteng, menggunakan kekuatan institusi untuk mengambil suara dan harus melibatkan sepak bola lokal yang remeh-temeh. Dan semua itu harus berujung pada satu korban jiwa. Satu nama yang seketika berubah dari suporter menjadi trauma kolektif.
Aku teringat pesan uti sapaan akrab dari nenekku, orang tua yang selalu melihat dunia dengan skeptisisme dan pikiran kolot pastinya, pernah berpesan, “Uti mah ga tega kalo anak cucu uti harus jadi orang yang berseragam, karena latihannya keras banget tong, Jangan pernah ya!” Katanya, seragam itu adalah sebuah entitas yang secara fundamental menuntutmu untuk menyerahkan separuh jiwamu, separuh nalar, separuh kemanusiaan, demi sebuah komando yang bisa saja tercela.
Di tengah riuh rendah chaos yang disokong oleh kerakusan itu, aku berjanji pada diriku sendiri, sambil memandangi kekacauan itu pada sore hari: kelak, aku akan menceritakan ini kepada anak cucuku.
Aku akan berbisik di telinga mereka saat mereka sedang sibuk mencari-cari tujuan hidup di masa depan yang menjanjikan: “Ayah/Kakek pernah melihatnya. Ayah/Kakek pernah menyaksikan bagaimana ambisi dan seragam bisa merenggut nyawa bocah lugu. Jangan berseragam, Nak. Jangan pernah.”
Sebab pada akhirnya, di dunia yang kocar-kacir ini, satu-satunya martabat yang tersisa adalah ketika kita mampu memilih untuk tidak terlibat dalam barisan yang diorganisir untuk membunuh.
Dan di antara puing-puing ingatan yang tak pernah kami buang ke tempat sampah. Karena memori buruk adalah komitmen seumur hidup. Kami panjatkan sebuah doa. Doa yang tidak terukir dalam bahasa latin yang sakral atau bahasa arab yang suci, melainkan dalam bahasa kesepian yang paling sejati.
Banu Rusman, aku membayangkanmu di Surga, jika tempat itu memang ada. Aku membayangkan di sana tidak ada lagi warna seragam yang datang berkompi-kompi hanya untuk mengamankan ambisi politik yang ngawur.
Di sana, aku harap udara yang kau hirup tidak berbau sepatu besi itu, dan langitnya tidak keras seperti wajah petinggi yang menolak mengakui kesalahannya. Aku ingin membayangkan wajahmu di sana tidak lagi mencerminkan bocah lugu yang kaget, yang matanya terpaku terdiam mencerna kekejaman yang tak pantas.
Kau telah menjadi tuan rumah bagi kesedihan kolektif kami, Banu. Engkau yang terenggut hanya karena postur kekuasaan harus dijaga di lapangan yang keliru. Kau adalah bukti paling nyata bahwa dalam kehidupan ini, hal-hal yang paling indah dan sederhana seperti mendukung tim kebanggaan selalu berisiko dihancurkan oleh hal-hal yang paling munafik dan ambisius.
Jika memang di sana ada keadilan, biarlah kau mendapatkannya secara utuh. Biarlah luka pendarahan dikepalamu yang dulu mendapat kesejukan abadi.
Kami yang tertinggal, masih harus melanjutkan hidup di tengah kota yang penuh hiruk pikuk, tempat para politisi dan para elit sibuk menyusun janji-janji palsu. Tapi kau tidak lagi harus menyaksikan itu. Kau telah lulus dari drama murahan ini.
Istirahatlah, Banu. Atau, jika kau mau, gonggonglah dengan lantang di sana. Karena di sini, kami terlalu sering diajarkan untuk memilih diam saat kebenaran harus diucapkan.
Semoga kau menemukan ketenangan yang tak terbatas, jauh dari seragam dan ambisi dunia.
Ditulis oleh
Saddam F H





