Dulu, untuk membenci sekelompok orang dari kota sebelah, manusia butuh alasan yang masuk akal. Perebutan lahan pertanian, sentimen rasial, atau minimal sengketa batas wilayah yang tak kunjung beres di atas meja balai kota. Ketegangan itu dirawat dari generasi ke generasi hingga akhirnya tumpah ke dalam stadion sepak bola.
Sekarang, kapitalisme menyederhanakan semuanya. Kamu bisa membenci sebuah entitas hanya karena sekelompok pemodal memutuskan untuk memindahkan pabrik hiburan mereka ke halaman belakang rumahmu. Di layar televisi, para pundit olahraga dengan kemeja yang terlalu ketat menyebut pertemuan semacam ini sebagai “derbi”. Di jalanan Tangerang, orang-orang menyebutnya lelucon yang buruk.
Secara administratif, Tangerang sudah punya porsi rivalitasnya sendiri semenjak birokrasi membelahnya menjadi wilayah Kabupaten dan Kota pada 1993. Persita dan Persikota adalah produk sah dari pemekaran itu. Ketegangan mereka organik, lahir dari persaingan wajar antara pegawai negeri, pedagang pasar, dan warga yang merasa kotanya lebih unggul dari kabupaten, atau sebaliknya. Mereka bertengkar memperebutkan identitas di atas tribun beton yang retak-retak. Itu masuk akal. Manusia memang punya kecenderungan evolusioner untuk berkelompok dan saling meneriaki.
Lalu datanglah entitas bernama dewa united. Sebelum menetap di Banten dan mengklaim diri sebagai representasi lokal, klub ini adalah Martapura FC yang bermarkas di Kalimantan Selatan. Di atas kertas, proses mutasi genetik ini sepenuhnya legal. Seseorang dengan rekening gendut menyadari bahwa membeli lisensi klub yang sedang sesak napas secara finansial jauh lebih efisien ketimbang membina pemain dari usia sekolah dasar.
Mereka memindahkan operasional klub ribuan kilometer melintasi laut, mengganti logo dengan desain vektor yang lebih ramah sponsor, dan menyewa stadion di Banten saat ini. Tiba-tiba, melalui kampanye kehumasan yang agresif, mesin pencari Google dipaksa percaya bahwa mereka punya rivalitas historis dengan Persita.
Bagi kami di kalangan suporter Persita untuk penggunaan istilah “derbi” dengan dewa united jujur sedikit janggal *dengan nada ala grind boys. Kami tidak akan pernah sudi untuk disebut derbi oleh “klub plastik”. Secara materialistik, plastik adalah penemuan jenius di abad ke-20—murah, diproduksi massal, dan bisa dibentuk menjadi apa saja. Namun masalah utamanya, ia tidak bisa terurai dengan tanah. Begitu pula klub semacam ini. Mereka bisa mencetak ribuan lembar tiket dan membayar algoritma media sosial untuk terlihat relevan, tapi mereka tidak bisa tumbuh dari memori kolektif warga kota.
Di luar stadion, Pak Budi, seorang pedagang asongan yang tiba-tiba nyeletuk “You support dewa united because of money, We support PERSITA because of our identity”, sambil sibuk merapikan termos es-nya. Ia jelas tidak pernah membaca teori akumulasi modal Karl Marx atau peduli bagaimana sistem franchise olahraga di Amerika bekerja. Ia cuma tahu bahwa tim yang ia dukung punya sejarah panjang, sementara lawannya murni bermodalkan uang. Sambil menyeduh kopi saset rasa moka ke dalam gelas polimer, ia merangkum ketimpangan itu tanpa pretensi, membuktikan bahwa orang biasa sering kali punya radar pendeteksi kebohongan yang lebih tajam daripada analis televisi.
Pada akhirnya, industri sepak bola modern memang tidak didesain untuk merawat ingatan. Ia didesain untuk memutar uang secepat mungkin. Namun, bagi para suporter yang menolak tunduk pada narasi industri, penolakan ini adalah sisa-sisa pertahanan terakhir. Sebuah konsorsium bisnis mungkin bisa membeli apa saja di dunia ini seperti lisensi kompetisi, pemain asing berharga miliaran, hingga slot jam tayang utama.
Namun, mereka akan selalu menemui jalan buntu saat mencoba membeli masa lalu. Apalagi jika struk pembayarannya dicetak di atas kertas yang salah.
Ditulis oleh
Saddam F H





