Manajemen Persita Tangerang tampaknya sedang terjebak dalam delusi pemasaran yang akut. Mereka melihat tribun yang melompong bukan sebagai indikator ekonomi, melainkan sebagai kegagalan moral suporter. Ini adalah cara pandang yang tidak hanya keliru, tapi juga sombong. Mereka menuntut antusiasme massal seolah-olah tiket stadion adalah prioritas utama di atas tagihan listrik dan beras yang harganya terus merangkak naik.
Bagi kelas pekerja di Tangerang, sepak bola adalah kemewahan tersier. Di tengah gelombang PHK yang datang seperti kutukan dan sistem yang terus-menerus memunggungi buruh, memilih untuk tidak datang ke stadion adalah tindakan yang sangat rasional. Jika Persita hanya ramai saat menjamu tim besar, itu bukan tanda kurangnya cinta. Itu adalah kalkulasi bertahan hidup. Seorang suporter yang lebih memilih menghidupi dapurnya daripada membeli tiket pertandingan tidak sedang mengkhianati klub; dia sedang menjadi manusia yang waras.
Manajemen seharusnya berhenti merengek soal jumlah massa. Mereka harusnya bersyukur pada segelintir orang yang masih sudi berdiri di tribun hari ini orang-orang yang menyisihkan sisa kewarasan dan uang saku mereka di tengah dunia yang sedang kacau-balau. Menuntut loyalitas tambahan kepada mereka yang sudah berkorban adalah bentuk ketidaktahuan diri yang luar biasa.
Namun, di dalam pagar tribun, kita pun punya hobi yang sama buruknya: memelihara dendam kecil.
Konflik horizontal antara faksi entah itu labelnya ultras, hooligan, atau mania hanya membuat dukungan kita terasa seperti sirkus internal yang melelahkan. Kita sibuk mendebatkan “cara” mendukung yang paling benar, sementara orang-orang di luar komunitas memilih menjauh karena muak melihat gesekan yang tidak perlu. Sifat manusia memang gemar berkelompok dan saling teriak, itu purba. Tapi terus-menerus merawat luka lama di rumah sendiri adalah kemewahan yang tidak sanggup kita bayar lagi.
Ramadan ini adalah momentum yang tepat untuk berhenti menjadi bebal. Persita tidak akan pernah menjadi kebanggaan yang utuh selama manajemennya masih melihat suporter sebagai angka statistik, dan suporternya masih sibuk saling melukai atas nama identitas kelompok.
Tangerang itu milik kita bersama. Jika kita tidak bisa saling merangkul dan memaafkan sekarang, maka jangan pernah bertanya mengapa tribun itu tetap sunyi. Sebab, kesetiaan sejati tidak butuh validasi dari manajemen yang berjarak, tapi ia butuh ruang yang cukup lapang untuk saling menghargai bahkan saat urusan dapur sedang tidak baik-baik saja.
Ditulis oleh
Saddam F H





