Menikmati malam Minggu dengan pertandingan sepak bola adalah kenikmatan yang mendalam bagi sebagian orang. Dentingan gelas anggur yang terus mengalir di malam sebelum hari pertandingan digelar memberikan sentuhan syahdu yang unik. Kami sering menyebutnya sebagai “pre-match syndrome,” momen yang membawa kita lebih dekat kepada perasaan tak sabar menjelang pertandingan, diiringi dengan chants-chants yang dinyanyikan sekeras mungkin setelah melewati pekan yang penat.

Orang-orang sudah kehilangan gairahnya menyaksikan tim berjuluk Pendekar Cisadane ini akibat beberapa pertandingan terakhir yang kurang memuaskan dan di kandang sendiripun tim ini tidak bisa menjanjikan kemenangan untuk fans kesayangannya. Orang-orang mulai memilah pertandingan mana yang akan direlakan waktunya untuk hadir. Biasanya pilihan jatuh di laga kontra tim besar saja.

Pada Sabtu, 4 November 2023, tim kebanggaan kami, Pendekar Cisadane, harus menghadapi Barito Putra di kandangnya sendiri. Kick-off pertandingan digelar pukul 19.00 WIB, namun sejak sore, hujan telah membasahi kota kami. Saya dan seorang teman, kami berdua memutuskan untuk menerjang menuju stadion dengan derasnya hujan yang telah lama dinantikan kota kami setelah kemarau panjang di bulan-bulan sebelumnya. Kami berdua membawa anggur merah dalam kantong kresek dan sedotan sambil mengendarai motor, menantang setiap tetes air yang turun dari langit.

Selama perjalanan, kami membicarakan prediksi skor pertandingan. Aku memprediksi skor akan berakhir dengan 2-1 yang akan dimenangi oleh Pendekar Cisadane, sementara temanku hanya mengangguk setuju. Ketika ia bertanya pendapatku tentang prediksi pertandingan nanti. Kami memasuki tribun pada saat babak kedua ketika hujan mulai mereda, mengingat kami berdua adalah ultras yang tidak ingin sakit akibat masuk angin.

Di babak pertama, Pendekar Cisadane berhasil unggul dengan skor 1-0. Keunggulan betambah, ketika babak kedua dimulai, tim kami menambah keunggulannya dengan skor 2-0. Temanku kemudian berkomentar, “Kalo di luar negeri, skor 2-0 sudah pasti menang.” Aku hanya mengangguk, sebab pengaruh alkohol dalam kepala membuat fokusku terganggu. Aku hanya menyanyikan chants yang dipimpin oleh dua capo di barisan depan dengan kacamata unik mereka.

Namun, nasib buruk menimpa kami ketika tim lawan berhasil mencetak satu gol, membuat skor menjadi 2-1. Lalu, tim kami bermain terkadang menyerang, terkadang bertahan, dan terkadang melewatkan peluang. Ini membuat kami di tribun mulai mengumpat. Pada menit terakhir, tim lawan berhasil mencetak gol keduanya, mengimbangi skor menjadi 2-2. Pluit panjang ditiup menandakan pertandingan  telah usai, dan kami semua di tribun merasakan kecewa atas hasil akhir pertandingan ini.

Para fans yang masih setia berdiri di tribun disaat tim kesayangannya dalam kondisi yang memperihatinkan ini mulai melontarkan umpatan dan bualan, meskipun tim kami sedang dalam kondisi yang kurang baik. Bagaimana tidak? Kami hanya selangkah dari zona degradasi. Pemain-pemain yang enggan mendekati suporter setelah pertandingan usai membuat kami merasa kecewa, padahal mereka bisa hidup berkat seragam  yang mereka kenakan seragam yang kami bela dengan mati-matian.

Kekalahan yang memilukan Ya, kita bisa menggambarkannya dengan kata-kata tersebut. Menjalani musim yang penuh dengan tantangan, harapan untuk mencapai lima besar semakin menjauh. Di pertengahan musim, mimpi untuk melihat tim ini meraih prestasi semakin sulit terwujud. Namun, cinta kami pada tim tidak akan pernah luntur atau pudar.

Kami berharap besar bahwa awal putaran kedua akan membawa kemenangan yang menjauhkan kami dari jurang degradasi. Namun, yang terjadi justru adalah hasil imbang yang menyakitkan di kandang kami sendiri. Ketika kita hampir meraih kemenangan, gol penyeimbang oleh tim lawan menghilangkan sorak sorai kami. Bahkan dalam 30 detik terakhir pertandingan, kita tidak mampu menjaga keunggulan. Pertanyaannya, apakah ini karena masalah mental pemain yang tidak sejalan dengan strategi tim ataukah strategi pelatih yang terlalu percaya diri dalam bertahan dengan skuad saat ini?

“Tidak percaya proses?… Tapi kondisi saat ini berbeda. Tim ini sudah dijurang yg bisa membalikan kita ke kasta ke-2. Kami pun tidak sudi jika tim ini diisi oleh pemain/official yg tidak bisa bekerja dengan hati.. BAGI KAMI TIM INI ADALAH HARGA DIRI !”~Tegas Eenk

-Persita Selamanya-

Share Articles

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Pinterest

related post

contribution

Berbagi Karya Seni

Kepada semua penggemar setia Persita Tangerang yang memiliki karya tulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *